Kamis, 18 Desember 2008

Tahun 2007 adalah tahun kebangkitan musik reggae Indonesia

Tahun 2007 adalah tahun kebangkitan musik reggae Indonesia. Band-band reggae Indonesia berbendera indie label kini gencar merilis album. Mereka memasukkan warna lokal, membangun warna ke-indonesia-an

Panggung konser reggae dari Aceh sampai Papua selalu dibanjiri publik. Mereka bernyanyi dan berjingkrak seraya mengibarkan bendera merah-kuning-hijau bendera Ethiophia yang masih keliru dipahami publik sebagai bendera Jamaika.
Wajah Bob Marley muncul di mana-mana, dari grafiti di dinding seantero kota hingga kaos, sarung, dan pin yang reggaeman kenakan. Rupanya reggae bukan sekadar musik belaka. Reggae pun diekspresikan dalam desain komunikasi visual.
Memang sudah dari sononya –dari Jamaika tempat reggae lahir lalu mendunia — berkembang kultur reggae sebagai kultur yang produktif dan kreatif. Reggae menjadi musik perlawanan kaum yang termarjinalkan.
Inilah jiwa jaman yang dikabarkan dan dikobarkan musik Berawal dari Mento, musik rakyat yang diwariskan secara turun temurun, bagaikan ‘topi tua’ di kepala budak-budak, melindungi warga Jamaica dari sengatan matahari imperialis. Musik rakyat itu kemudian dipadukan dengan sapuan lembut pengaruh Eropa. Hasilnya bentuk musik yang merebak di seluruh Hindia Barat umumnya, dan Jamaika khususnya, menguak takdir diantara dua Perang Dunia, dalam bentuk Callypso, yang kemudian sohor sebagai musik Karibia.
Kedatangan jump blues dan R&B Amerika selama dekade 50an yang juga banyak direllay stasiun-stasiun radio kulit hitam dari Miami, seiring dengan radio transistor masuk dan didengar banyak telinga di Jamaika, menghasilkan buah perubahan Mento dan Callypso menjadi Ska yang lahir dari tangan para Gheto Musicians, yang hidup di daerah kumuh seperti Trench Town, Orange Street dan West Kingston.
Kehidupan di Ghetto yang sarat dengan kemiskinan, kejahatan dan segudang permasalahan sosial lainnya, seiring dengan kemerdekaan Jamaika dari Britania Raya pada tahun 1962 serta kondisi post-kolonial yang carut-marut sangat berpengaruh bagi musisi dalam menulis lirik dan membangun kesadaran politik. Ketika Ska berevolusi menjadi Reggae yang kemudian musik ini mendunia melalui Bob Marley, penulis lirik jenius yang memperjuangkan kemerdekaan, kesetaraan, persaudaraan dan perdamaian secara universal dalam lagu-lagunya. Dari Bob Marley, musisi reggae Indonesia memahami reggae sebagai musik perlawanan, Rebell Musics. Melawan ketidakadilan, diskriminasi, dan kemiskinan.
Dalam perkembangannya, band-band reggae di Indonesia, membangun karakter ke-indonesia-an, dengan karya cipta reggae yang mengadopsi lokalitas, mengeksplor musikalitas etnik dan lirik berbahasa daerah seperti yang berkembang di Bali dan Papua. Membangun kesadaran nation dalam lirik berbahasa Indonesia, dengan menjelajah keindahan pastoral, dan problematika sosial-urban yang sangat politis. Disamping itu, memupuk solidaritas global dengan menciptakan lirik berbahasa Inggris.
Keragaman etnik dan budaya Indonesia yang sangat limpah secara musikalitas sangat mendukung tumbuh dan berkembangnya musik reggae. Keunikan ini yang membuat legenda musik reggae dunia jatuh hati pada Tony Q Rastafara, reggaeman Indonesia yang telah merampungkan kerjasama dalam pembuatan album World Reggae bersama Putu Mayo, perusahaan recording yang berbasis di New York bersama beberapa musisi reggae legendaris dunia. Kini sedang proses pembuatan album bersama Mark Miller dan Fully Fullwood serta acapkali diundang pada ajang festival reggae internasional.
Seperti memutar kembali jarum sejarah perkembangan reggae di Inggris dekade 70an, komunitas-komunitas reggae pun bermunculan di Jakarta. Anak punk Jakarta pun melebur dalam musik reggae. Lahirlah band punkyreggae, seperti Hajitarbi. Atau komunitas skinhead, membangkitkan kembali musik ska. Muncul juga pertumbuhan indie label yang merilis album serta penerbitan buku yang menjadi tulang punggung kultur reggae Indonesia.
Bukan mau membuat nubuat, tetapi ini sebuah kenyataan, tahun 2007 musik reggae booming. Kanak-kanak berusia 5-7 tahun di mana-mana pun menyanyi sebaris lagu Steven n’Coconut Treez: “Welcome to my paradise…” [HELMI Y.HASKA]

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar